Minggu, 01 Mei 2011

MAKANAN YANG BAIK UNTUK KESEHATAN PRIA


Mengkonsumsi makanan tertentu terbukti buruk untuk kesehatan pria maupun wanita. Statistik  menunjukkan, diet berhubungan dengan  4 dari 10 penyebab utama kematian pada pria. Mulai dari kanker, penyakit jantung, penyakit vascular otak, dan diabetes.

Berikut ini adalah makanan yang baik untuk kesehatan pria :

  • Tomat
Tomat mengandung asam-asam yang meningkatkan sekresi gastric acid dan membantu mencerna protein dan nutrisi lainnya.

  • Kedelai
Mengandung phyto-estrogen yang dikenal berkhasiat untuk kesehatan perempuan, tapi juga baik untuk pria.

  • Biji Labu
Biji labu adalah sumber yang baik dari vitamin E, yang dapat membantu memperlambat proses penuaan.

  • Wortel
Berkhasiat meningkatkan respon imun dan mencegah radikal-radikal bebas yang merusak sel-sel, dan mengandung vitamin A.

  • Seafood
Meningkatkan libido, zinc di dalam seafood baik untuk produksi sperma.

  • Bawang Putih.
Berkhasiat ampuh sebagai antibakteri dan meningkatkan absorpsi vitamin B1 dan metabolisme karbohidrat untuk memproduksi energi.

  • Air
Tujuh puluh lima persen otak manusia terdiri dari air. Pria perlu 2 liter air sehari.

  • Teh Hijau
Mengandung vitamin C yang tidak terdapat di dalam the hitam, juga mengandung asam-asam amino antipenuaan.

UANG


Fungsi

Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.
Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.
Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.

BAB I
LANDASAN TEORY

Pengertian Perputaran uang

“ Jumlah Peredaran uang dalam periode tertentu “

PEMBELANJAAN
Pembelanjaan merupakan salah satu fungsi perusahaan selain personalia, pemasaran dan produksi. Pengertian pembelanjaan selalu berubah dari waktu kewaktu, sedangkan pengertian lama pembelanjaan adalah menyediakan dana. Akan tetapi setelah perekonomian berkembang terus maka konsep pembelanjaan juga berubah. Pengertian pembelanjaan menurut Bambang Riyanto dalam Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan adalah suatu usaha menyangkut bagaimana mendapatkan dana, bagaimana menggunakan dana dan bagaimana laba perusahaan akan didistribusikan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pembelanjaan perusahaan mempunyai tujuan sebagai berikut:

1. Mendapatkan atau menaikkan tambahan dana perusahaan.
2. Menggunakan dana secara efisien.
3. Mendistribusikan laba perusahaan kepada yang berhak.

PENGGUNAAN DANA
Penggunaan dana setelah ada di perusahaan, sebagai manajer keuangan berusaha untuk menggunakan secara efisien demi tercapainya tujuan perusahaan. Pada dasarnya penggunaan dana dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu:

1. Penggunaan dana dalam jangka pendek : Kas, surat-surat berharga, piutang dan persediaan.
2. Penggunaan dana dalam jangka panjang : Investasi aktiva tetap termasuk tanah,
bangunan dan peralatan.

Mengelola penggunaan dana perusahaan baik untuk jangka pendek atau jangka panjang berkaitan erat dengan masalah efisiensi, karena kalau masalah efisiensi tercapai berarti manajer keuangan berhasil dalam mengelola dana dalam arti pengalokasian dana perusahaan tepat dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan sehingga perusahaan dapat dengan mudah menelusuri bagian-bagian mana yang menghasilkan laba perusahaan. Efisiensi penggunaan dana sehari-hari dalam kegiatan operasional perusahaan dapat di ketahui dengan membandingkan pendapatan bersih perusahaan selama jangka waktu tertentu dengan dana atau modal yang dipakai perusahaan dalam memperoleh pendapatan tersebut. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh pendapatan dari sejumlah modal yang dipergunakan disebut Rentabilitas. Jadi rentabilitas yang semakin tinggi dapat diartikan bahwa kemampuan perusahaan juga tinggi, hal ini berarti rentabilitas yang tinggi juga mencerminkan efisiensi yang dicapai perusahaan baik.

Rentabilitas perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Laba/pendapatan bersih
Rentabilitas (RE) = X 100 %
Modal Kerja
Laba bersih dapat dilihat perinciannya secara lebih jelas dan lengkap kalau kita
membaca pada laporan rugi laba, yang kemudian juga dicantumkan pada neraca akhir
perusahaan.

Penggunaan dana jangka pendek
Penggunaan dana jangka pendek menyangkut pembelanjaan aktif yaitu ; penggunaan dana tertuang ke dalam besarnya modal kerja yang tertanam dalam aktiva lancar. Adapun yang tergolong aktiva lancar adalah kas, piutang, surat berharga dan persediaan barang. Jadi aktiva lancar adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang sewaktu-waktu dapat diubah menjadi uang dalam jangka waktu perputaran kegiatan operasional atau dengan kata lain aktiva lancar adalah kekayaan perusahaan yang tingkat likuiditasnya tinggi. Biasanya likuiditas suatu kekayaan perusahaan terlihat pada susunan aktiva lancar yang tercantum pada neraca perusahaan di mana kekayaan yang berada pada urutan paling atas adalah yang paling likuid ( = paling cepat diubah menjadi uang tunai ).

Pengelolaan kas
Kas merupakan salah satu bentuk aktiva lancar yang paling likuid di mana dapat berbentuk uang tunai atau cek yang dapat sewaktu-waktu diuangkan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari perusahaan. Pengadaan kas ditujukan untuk membiayai keperluan sehari-hari sehingga kontinuitas perusahaan tetap terjaga. Keperluan sehari-hari tersebut bisa saja untuk membeli bahan baku, membayar gaji, membeli listrik, sewa bangunan dan peralatan dan sebagainya. Berapa besarnya kas dalam bentuk uang tunai agar tidak mengganggu kelancaran perusahaan tidak dapat ditetapkan batasannya secara jelas, hanya saja pada umumnya suatu perusahaan akan menyediakan kas dalam bentuk uang tunai sebesar 5 % sampai dengan 10 % dari total aktiva lancar perusahaaan. Disamping juga tergantung pada kebijaksanaan perusahaan, besarnya kas tunai juga tergantung pada bagaimana dengan penerimaaan dan pengeluaran kas. Penetapan kebijaksanaan perusahaan dalam menentukan berapa sebaiknya kas yang dipunyai perusahaan harus benar-benar direncanakan dan diperhitungkan dengan teliti karena jika terjadi kelebihan dan kekurangan akan merugikan perusahaan. Kalau terjadi kelebihan kas tunai, maka perusahaan akan menangggung kerugian seperti:

a. Adanya kas tunai yang menganggur karena melebihi kapasitas yang dibutuhkan.
b. Adanya biaya modal yang harus dibayar jika dana yang diperoleh perusahaan berasal dari pinjaman dari suatu bank.
c. Dana yang mengangggur sebenarnya dapat dialokasikan pada kegiatan yang lebih produktif.
d. Merusak nama perusahaan di mata para kreditur bank.



Apabila perusahaan mengalami kekurangan dana tunai akan mengakibatkan:
a. Terganggunya kelancaran proses produksi karena keterlambatan pembelian bahan baku, membayar gaji, listrik dan sebagainya.
b. Produktivitas mengalami penururnan karena berkurangnya kemampuan dalam membeli bahan-bahan atau hal-hal lain yang menyangkut proses produksi.
c. Hilangnya pasar yang sudah dikuasai karena kesempatan tersebut tidak dapat dimanfaatkan karena kurangnya barang yang dibutuhkan konsumen sehingga konsumen lari membeli produk dari perusahaan pesaing.

Aliran kas dan anggaran kas
Aliran kas menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas sehari-hari. Aliran kas masuk ( penerimaan ) berhubungan erat dengan masalah penjualan barang dan jasa perusahaan baik yang bersifat penjualan kredit/tunai maupun penjualan dan pembelian saham perusahaan. Aliran kas keluar ( pengeluaran kas ) bisa berbentuk pengeluaran untuk membayar gaji, upah dan membantu ongkos masyarakat dan sebagainya. Untuk menunjang aliran kas sebaiknya dibutuhkan anggaran kas karena dengan adanya anggaran kas dapat diketahui dan direncanakan dan kemudian diambil keputusan, misalnya: memakai dana yang sementara menganggur ke keperluan yang lebih penting dan sebagainya.

Pengelolaan Persediaan
Persediaan di sini termasuk juga bahan baku, bahan penolong maupun barang dalam proses. Persediaan merupakan bentuk terakhir dari aktiva lancar yang dibahas di sini. Persediaan barang berkaitan erat dengan proses produksi perusahaan sehingga jumlah persediaan ini selalu berubah sesuai dengan perputaran yang ada di bagian produksi. Pengelolaan persediaan mempunyai arti penting karena berhubungan dengan volume penjualan perusahaan dan akhirnya nanti juga mempengaruhi pencapaian laba perusahaan.

Penggunaan dana jangka panjang
Penggunaan dana jangka panjang berarti kita mempertimbangkan jumlah uang yang tertanam pada aktiva tetap. Bentuk aktiva tetap tersebut bisa berupa tanah, peralatan/ mesin dan bangunan. Kalau kita mempertimbangkan jumlah dana pada aktiva tetap, berarti kita harus memperhatikan resiko yang akan dihadapi di waktu yang akan datang, karena dana yang tertanam di aktiva tetap tersebut akan kembali dalam jangka waktu yang lama sehingga keputusan untuk menginvestasikan dana dalam bentuk aktiva tetap harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang dan teliti, karena dana yang terkait pada aktiva tetap biasanya dalam jumlah yang besar sehingga kalau terjadi kesalahan akan mengakibatkan kerugian yang besar juga bagi perusahaan atau bahkan bisa membuat perusahaan tutup.
Apa yang perlu dipertimbangkan dalam menginvestasikan dana pada aktiva tetapadalah nilai uang itu sendiri. Karena nilai uang akan selalu berbeda dari waktu ke waktu sehingga sewajarnya kalau kita harus menghitung bagaimana nilai uang tersebut di waktu yang akan datang. Penilaian uang dapat diperhitungkan dengan dua konsep yaitu:

1. Nilai uang sekarang ( Present Value ).
2. Nilai uang Majemuk ( Compound Value ).




Salah satu fungsi sistem keuangan adalah penciptaan uang. Penciptaan uang antara lain dapat dilakukan melalui bank umum yaitu dengan melalui penciptaan uang giral. Oleh karena itu, bank umum dapat mempengaruhi jumlah uang beredar. Untuk menggambarkan proses penciptaan uang oleh bank-bank umum dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi sebagai berikut:
1. Ketentuan reserve requirement (RR) 5 %
2. Semua loanable funds yaitu dana setelah dikurangi RR, disalurkan dalam bentuk kredit.
3. Setiap transaksi menggunakan cek.
4. Semua transaksi dalam bentuk giro.
5. Simpanan giro pertama sebesar Rp. 1 juta dan disimpan pada Bank Umum A.
Proses transaksi untuk penciptaan uang oleh bank umum perekonomian dengan menggunakan asumsi di atas dimulai dengan simpanan nasabah dalam bentuk Giro pada Bank A sebesar Rp. 1 juta. Untuk memenuhi ketentuan Bank Umum A menahan sebesar Rp. 50 ribu (5 % x Rp. 1 juta) sebagai cadangan. Sisanya sebesar Rp. 950 ribu yang dalam hal ini adalah loanable funds dipinjamkan kepada nasabahnya.
Selanjutnya, nasabah yang mendapatkan kredit tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhanya. Pihak penjual dengan adanya transaksi tersebut memperoleh uang yang kemudian menyetorkannya pada rekening gironya di Bank Umum B sebesar Rp. 950 ribu. Oleh Bank Umum B setelah menahan cadangan sebesar 5 % x Rp. 950 ribu = Rp. 47.500, sisa dananya sebesar Rp. 902.500 kemudian dipinjamkan kepada nasabahnya.
Nasabah yang memperoleh pinjaman dari Bank Umum B membelanjakan uangnya tersebut sebagaimana dengan nasabah Bank Umum A sebelumnya. Oleh pihak penjual yang melakukan transaksi tersebut disetorkan ke rekeningnya di Bank Umum C sejumlah Rp. 902.500 yang kemudian menahan sebagian jumlah tersebut sebagai cadangan likuiditas dan selanjutnya menyalurkannya kembali kepada debitur. Proses transaksi seperti ini akan berulang secara terus menerus yang akan berakhir pada suatu tahap di mana tidak ada lagi sisa cadangan likuiditas sehingga loanable funds menjadi nihil dari jumlah simpanan giro awal.
Pada proses penciptaan uang giral oleh bank umum tersebut yang jumlah awalnya hanya sebesar Rp. 1 juta akan menjadi 20 juta setelah melalui proses penciptaan uang giral dengan mekanisme yang sama seperti dijelaskan di atas. Jumlah uang giral, cadangan likuiditas, dan kredit yang diberikan pada akhir proses penciptaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
D = S/r
Dimana:
D : Jumlah seluruh uang giral, cadangan dan kredit yang diberikan yang akan terwujud dalam proses penciptaan uang.
S : Jumlah uang giral, likuiditas dan kredit yang diberikan yang tercipta pada awal proses penciptaan uang
r : Ketentuan bagian uang giral (dalam persen) yang harus ditahan oleh bank sebagai cadangan likuiditas (reserve requirement).

a. Tabungan giral : D = S/r
= 1.000.000/5% = Rp. 20.000.000
b. Cadangan wajib : D = S/r
= 50.000/5% = Rp. 1.000.000
c. Kredit yang diberikan : D = S/r
= 950.000/5% = Rp. 19.000.000

12)
Jumlah uang bredar adalah netral dalam jangka panjang dengan berpengaruh pada pandapatan,


Uang Beredar
• Uang kartal; (logam dan kertas) yang ada di tangan masyarakat (di luar bank umum) dan siap dibelanjakan, setiap saat dikeluarkan oleh bank sentral.
•   Uang giral; yaitu uang di rekening giro (demand deposits) yang diciptakan oleh bank-bank umum atau dikenal BPUG (Bank umum Pencipta Uang Giral)
• Uang kuasi; yaitu uang dalam bentuk tabungan (saving deposits) dan deposito berjangka (time deposit) yang dikeluarkan oleh bank-bank umum. 
Uang Beredar
Perbedaan:
(1) Uang kartal dikeluarkan dan diedarkan oleh BI sementara  uang giral dan uang kuasi diciptakan dan diedarkan oleh bank umum.
(2) Dari peggunaannya, uang kartal dan giral dapat digunakan langsung sebagai alat pembayaran; uang kuasi tidak dapat secara langsung digunakan sebagai alat pembayaran. 
Otorita Penciptaan Uang
• Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia melaksanakan    fungsi otoritas moneter yang salah satu tugasnya adalah mengeluarkan dan mengedarkan uang.
• Di AS, selain bank sentral (The Federal Reserve), Departemen  Keuangan (Treasury Departement) juga mempunyai wewenang untuk menciptakan uang dengan pecahan logam tertentu. 
Uang beredar dalam arti luas (M2) disebut juga Likuiditas Perekonomian yaitu kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik meliputi M1 ditambah uang kuasi (T) 

ABSURDITAS PERNIKAHAN DALAM MASYARAKAT KONTEMPORER


Judul Buku                 : Sudesi (Sukses dengan Satu Istri)
Penulis                       : Arswendo Atmowiloto
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal                          : 456 halaman
Tahun                          : Januari 2010


TUJUAN


Lembaga pernikahan yang sering dianggap sakral ternyata mengalami pereduksian makna dalam masyarakat kontemporer. Pernikahan yang sarat dengan nilai-nilai kesetiaan, pengabdian dan serta pengorbanan, kemudian ditaburi perselingkuhan, kebohongan serta berbagai kepalsuan.

Persoalannya kemudian, masihkah ada orang yang dapat sanggup mempertahankan pernikahan yang serba suci itu manakala lingkungan sekitarnya seolah-olah membenarkan terjadinya berbagai bentuk pengkhianatan. Lebih ekstrim, apakah lembaga perkawinan masih layak dipertahankan sebagai wadah penyatuan dua individu, baik secara formal ataupun agama

Novel Sudesi (Sukses dengan Suatu Istri) tampaknya ingin memberikan sebuah lapangan perenungan mengenai persoalan-persoalan tersebut. Lewat pengalaman dan sepak terjang tokoh-tokohnya, Sudesi yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto, memperlihatkan kecenderungan ini.


SINOPSIS

Sebut saja tokoh Ibu Sukmono, istri Jati Sukmono penggagas Sudesi, yang kemudian berselingkuh dengan seorang fotografer ternama ketika suaminya tengah meringkuk di dalam penjara. Perselingkuhan yang diawali ketika Ibu Sukmono meminta untuk dipotret dalam pose tanpa busana itu, ternyata dapat terjadi begitu saja tanpa diakhiri rasa penyesalan maupun penghakiman yang berujung kepada akibat-akibat yang merepresentasikan “hukuman Tuhan” terhadap mereka.

Tentu saja novel ini tidak ingin menunjukkan bahwa perselingkuhan merupakan sesuatu yang pantas ditiru ataupun sesuatu yang bersifat relatif. Novel ini juga tidak berusaha mengonstruksi sebuah pemikiran bahwa perselingkuhan adalah sesuatu yang salah dalam pandangan relijiusitas. Sebaliknya, pembaca dibiarkan untuk menikmati alur cerita sebagaimana adanya, dan membuat penilaian tersendiri atasnya.

Beberapa kisah tokoh lainnya dalam novel ini juga menunjukkan bahwa pernikahan telah telah menjadi sesuatu yang absurd, misalnya saja kisah Bambang, seorang wartawan yang mendapat kesempatan untuk menuliskan biografi Ismi Patria, istri anak bungsu Tunjung Suanta, sekaligus istri dari Indrawan, seorang pengusaha kaya yang sanggup memberikan apa saja.

Tidak terjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan Ismi, yang akrab dipanggil dengan Ibu Ais, dengan Indrawan. Namun Indrawan menyetujui saja ketika Ibu Ais ingin membuat sebuah biografi dan menunjuk Bambang, saeorang wartawan, untuk menuliskan biografi itu.

Maka, dengan segala fasilitas yang mewah yang disiapkan oleh Bu Ais sendiri, Bambang berkesempatan masuk ke dalam kehidupan Ibu Ais. Ia dapat mengikuti segala aktivitas Ibu Ais, mengamati perilakunya, melakukan wawancara, dan bahkan jatuh cinta kepadanya.

Dari sinilah dimulai sebuah perselingkuhan dengan perjanjian di atas kertas antara Ibu Ais dan Bambang. Sebelum memulai perselingkuhan, Bambang diminta untuk memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk syarat kesehatan yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter. Bagi Bambang ini adalah sesuatu yang aneh, tidak masuk akal dan terlalu rumit untuk sebuah perselingkuhan. Anehnya lagi, perselingkuhan ini dilakukan dengan persetujuan suami Ibu Ais.

Semua kisah dalam novel ini memperlihatkan bahwa penikahan adalah sesuatu yang pelik, dan tidak gampang dilakukan dalam dunia kontemporer. Pernikahan yang dijalani dapat saja menjadi lembaga yang sakral, namun pengkhianatan terhadapnya sangat terbuka lebar. Tinggal bagaimana seorang individu memahami secara benar hakikat pernikahan, dan konsisten dengan janjinya untuk selalu setia pada psangannya.***

Biography of Aburizal Bakrie

Family business

Bakrie was born in Jakarta on November 15, 1946. He attended the Bandung Institute of Technology where he obtained a degree in electrical engineering in 1973. In 1972 he joined PT Bakrie & Brothers Tbk - the conglomerate founded by his father Ahmad Bakri - which had prospered during the Soeharto regime.[2] The Bakrie Group conducts business in agriculture, real estate, trade, shipping, banking, insurance, media, manufacturing, construction, and mining. Aburizal Bakrie, the eldest of four siblings, was the chairman of the family enterprise from 1999 to 2004. The Bakrie conglomerate went into deep debt after the 1998 Asian economic crisis and survived only after a refinancing process in 2000.[3] The refinancing allowed the Bakrie family to maintain control over the conglomerate.

Public offices

In 2004 Bakrie resigned his positions within the Bakrie companies prior to being named Chief Economic Minister of Indonesia.[4] This appointment by a president who planned to fight corruption was viewed with some reservation.[5] Subsequently Aburizal Bakrie has been blamed for poor economic development and business nepotism. [6] After a reshuffling of the cabinet in 2005, he became the Coordinating Minister for People's Welfare.
Previous positions included the presidency of the ASEAN Business Forum for two consecutive terms from 1991 to 1995, and the chairmanship of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) for two consecutive terms from 1994 to 2004.[4] As a member of the Golkar party Bakrie competed unsuccessfully to become Golkar's candidate for the presidency in 2004; eventually General Wiranto became the party's candidate.[7]
He was elected as the chairman of Golkar party at 2009 Golkar Party Congress at Pekanbaru, Riau, Indonesia after defeating Surya Paloh, Yuddy Chrisnandi and Hutomo Mandala Putra. In May of 2010, he successfully formed and was elected the leader of a majority parliamentary coalition with President Susilo Bambang Yudhoyono's party.

Sidoarjo mud flow

On 27 May 2006 an earthquake occurred on the island of Java, which also happens to be the mostly densely populated island on earth. This earthquake became known as the most destructive earthquake to hit the island in modern times, leaving over 6,000 dead and 1,500,000 homeless. 100's of earthquakes of similar or even larger in size had little effect on the population compared to this particular earthquake.
Two days after the 27 May 2006 earthquake a number of volcanoes reactivated1 including Indonesia's infamous Semeru Volcano, incredibility 300 km away. What became even further intriguing was, at the same time the eruption of a mud volcano in the city of Sidoarjo 250km from the earthquakes epicentre.
This mud volcano wasn't your normal mud volcano for a number of reasons including the direct impact it had over a large population of more than 40,000 residents while spewing out up to 150,000m3 of hot mud each day. In addition controversy and intrigue surrounded the cause when it was revealed that an exploration company had been drilling for gas reserves in a deep sedimentary reserve nearby and may have triggered the mud eruption.
The exploration company PT. Lapindo Brantas would become the focus of global media reporting, from the fact that the majority owners, the Bakrie family were politically connected and in an unusual and strange act agreed to meet the financial needs of the affected population, while defending its position that the mud volcano was a natural act. However, this family wasn't so normal, listed as Indonesia's wealthiest (Forbes USD9bn 2007) they were considered secretive, private and media shy.
Lapindo Brantas Inc. was formed in 1996 with the purchase of American owned Huffington Corporations interest and operator-ship of the Brantas Block in East Java. The 15,000 km2 Brantas Block was awarded by regulator BP Migas (formerly known as PERTAMINA) in 1990. After two mandatory relinquishments, the current area of the PSC is 3,050 km2. The Brantas PSC (Production Sharing Contract) has drilled 8 exploratory wells from 1993 through to 2001, which led to the discovery of the Wunut gas field, 30 km south of Surabaya. The Wunut field is commercial and was put on production in January 1999. At the time a large number of promising shallow and deep prospects were identified including Banjar Panji-1.
The drilling exploration began March 2006. Apart from some minor equipment breakdowns no unusual events occurred. The actual borehole was easier to drill (actual drilling conditions) than expected, and therefore didn’t require additional steel casing3 as expected. The shareholders meeting on 18 May 20064 discussed the casing point, logging program and open-hole test. Minutes of this meeting clearly indicated that all three partners agreed to a case setting at 3580ft5
Eleven days after this meeting on May 27, an earthquake hit Jogjakarta.
Following account from Lapindo Brantas operations -rig staff and site manager, drilling and exploration managers; “The drilling rig and porta buildings on the site suddenly started shaking violently we heard soon after that a large earthquake had been recorded. 7-10 Minutes after the earthquake the well experienced a loss of mud – a loss of approximately 20 bbls of drilling mud. This was controlled to standard industry practises. Over the next 5 hours two large aftershocks were felt and a major loss circulation occurred. This loss was approximately 130 bbls of drilling mud. The emergency drilling team managed the loss by pumping a loss circulating material that plugged the loss. The well no longer suffered any losses, and was static for the next 7 hours. It appeared that the loss had something to do with the tectonic activity from the earthquake. Then shocking news reached us, the earthquake had killed more than 4000, with the death toll rising by the hour. We decided to halt further drilling due to the seismic activity from the earthquake and begun to extract the drilling bit from the well. The driller started to pull the drill string out of the hole by employing the normal method to avoid swabbing the well in. When the bit was halfway out, the well took a water kick that displaces some drilling mud out. The Blow Out Preventer (BOP) was shut in as per standard method. This kick was later killed using a standard method successfully. The well was now dead with no more pressure in the well, the BOP was open and the well was in a safe condition. We were started to continue to pull the drill string out, but found that it was differentially stuck. A preparation to fish the stuck pipe was underway when at 5am May 29 our team were alerted to a broach 150-200 meters from our drilling site. Naturally we were concerned of the situation, the broach wasn’t on our land, but we had access to experts that could advise on possible causes and importantly potential ways to halt the broach. Under normal PSC and operating requirements we reported the broach to BP MIGAS and our joint venture partners. An investigation was launched into the source of the mud and ways to stop it."
It was subsequently discovered that the broach (mud eruption) 150-200 meters from the drilling site was not the only location and that mud was erupting from five (5) other locations up to 1000 meters from the drilling site. Within a week of the mud eruption an article published in the Jakarta Post newspaper NGO (Walhi) and JV partner (Medco) were fingering blame on Lapindo Brantas for triggering the mud eruption. It seems a letter was leaked to the Jakarta Post from Medco pointing out that they had earlier reminded Lapindo Brantas to install steel casing to 8500ft which wasn’t done and therefore quickly became the catalyst for the wide spread belief that negligent drilling was the cause of the mud eruption. From this point onwards the cause was deemed a man-made event.
The Jakarta Post, Jakarta Environmental activists demanded Tuesday the government shut down PT Lapindo Brantas' gas prospecting operation after a botched drilling job caused hot, toxic mud to flood 30 hectares of land in Sidoarjo, East Java. The East Java arm of environmental watchdog Walhi urged the government to revoke the drilling license of PT Lapindo Brantas for environmental mismanagement. Television news reports Tuesday said more than 500 people from the affected area have received hospital treatment after breathing in toxic sulfur hydroxide gasses emanating from around the well. Hydrogen sulfide is a potentially hazardous and toxic compound that occurs naturally in coal pits, sulfur springs and gas wells.High levels of the compound are harmful, causing health effects ranging from eye irritations to severe respiratory tract irritations to death in severe cases. Walhi director Ridho Syaiful Ashadi told The Jakarta Post the leak was an ecological disaster that had displaced whole villages and caused widespread damage to farms and commercial operations. The watchdog and other activists said company executives should be prosecuted under environmental laws for gross negligence. "(PT Lapindo Brantas) has no reason to continue operating in the area," Ridho said. In a letter to PT Lapindo management obtained by the Post last week, partner firm PT Medco E&P Brantas said the company had failed to properly case the drilling hole to a depth of 2,615 meters (8,500 feet) a move meant to ensure the hole could be sealed off if the drilling operation encountered significant problems. PT Medco accused PT Lapindo of gross negligence and said under the agreement it was liable for damage caused by the deluge of mud. PT Lapindo executives have said natural causes, including the May 27 earthquake that jolted Yogyakarta and Central Java, was to blame for the mud flows. However, a chronology of drilling events attached to the letter obtained by the Post indicates that PT Lapindo experienced drilling problems when it hit a depth of 2860 meters -- on May 27, the day mud started flowing from the well.
Following account from Lapindo Brantas The chairman of our parent company Mr. Nirwan Bakrie instructed our management team to assist the task force and to immediately address 3 important areas;
• Ensure the safety of the surrounding communities. • Identify options to stop the broach. • Determine the causes that triggered the broach.
We engaged the services of western and Indonesian experts to seek ways to halt the broach. We mobilized 2 rigs to drill relief wells and a snubbing unit to seal off the mudflow. These attempts failed. Our experts advised us that due to the size and complexity no positive solutions could be found. Experts advised that the best option was to channel the mud towards the Porong River and eventually out to sea. This plan would stop the mud spreading to the surrounding communities in Sidoarjo. An environmental impact study predicted that local fishing communities would be affected, but these adverse conditions would not be long term, as the mud was a mixture of salty-muddy water and non- toxic. Unfortunately this solution wasn’t approved as local NGO‟s lobbied that environmental damage out-weights the affects to the communities surrounding the broach. We believe that this decision in not redirecting the mudflow ultimately impacted and lead to the unnecessary destruction of the nearby villagers and businesses.
The Indonesian Vice President (Kalla) visited the eruption site and remarkably without any legal basis, demanded that the Bakrie Group to bear responsibility for all losses. "The Bakrie family must be seen to be standing up front," he said, pointing towards Nirwan and directors of Lapindo. "As a national company, Lapindo must be seen to set a good example."
Tempo Magazine No. 43/VI June 27 - July 03, 2006 Cover Story The Bakrie family is being asked to bear the cost of all damages resulting from the Sidoarjo mudflow. Medco and Santos could be asked to share the responsibility. What has long been waited for has eventually happened. In Porong market, Sidoarjo, East Java, Nirwan Bakrie, accompanying the entourage of Vice President Josef Kalla, arrived to meet with the thousands of victims evacuated because of the mudflow disaster. The appearance of the person who now controls the Bakrie Group of businesses, on Tuesday last week created a great deal of attention. He was directly bombarded with demands for compensation. This is because Lapindo Brantas Inc., a subsidiary of the Bakrie Group, stands accused of being responsible for the hot mudflows that have appeared during this month in the subdistrict of Porong, Sidoarjo. The mudflows have covered the villages of Jatirejo, Renokenongo, Siring and Kedungbendo. Previously productive paddy fields that are also now covered in mud total about 127.29 hectares, while another 503 hectares are threatened. The mudflows have also flooded part of the Gempol-Surabaya toll road to a height of 20 centimeters. Jusuf Kalla has asked that the Bakrie Group bear responsibility for all losses. "The Bakrie family must be seen to be standing up front," he said, pointing towards Nirwan and directors of Lapindo. "As a national company, Lapindo must be seen to set a good example." Nirwan, who was accompanied by Ari Saptari Hudaya, the President Director of PT Bumi Resources (a subsidiary of the Bakrie Group), and Imam P. Agustino, General Manager of Lapindo, nodded his head in agreement.
In the issue of compensation, according to Jusuf Kalla, Lapindo also has to pay the wages of factory workers forced to close down by the catastrophe, the repairs to damaged roads and schools, as well as ensuring that local residents' homes are returned back to the condition they were in before the mudflows."Residents should not be losing a single cent," he said. Nirwan promised to meet this demand. "In the name of the Bakrie family, I apologize," he said.
What we do know: 1. Actual drilling plan was approved by all 3 partners 2. Drilling procedures (internationally) do not require steel casing throughout the borehole. 3. Drilling operations experienced problems minutes after the earthquake occurred with areas surrounding the drilling operation and nearby land producing large cracks, which appeared soon after the earthquake. 4. No mud erupted from Lapindo Brantas drilling hole despite the BOP being in the open position. 5. From the time after the well kick was killed on May 28, 2006, until the mud eruption, the BOP was kept in the open position. If the well was fractured, in order to propagate the fracture to surface, it would require sustained high pressure and for the BOP to be kept closed. 6. The borehole was only 13 inches in diameter. This size hole can pump a maximum 70,000 barrels a day, whereby LUSI was erupting up to 1,000,000 barrels a day. 7. Earthquake reactivated Mt. Semeru (300kms) from the earthquakes epicentre and exactly 2 days after the earthquake hit- same time as the mud erupted.

Selasa, 26 April 2011

Bermodal "Pede" dan Bersuara Merdu

Inisialnya RL. Laki-laki berusia 54 tahun itu berbicara dengan teratur, tenang, dan penuh percaya diri. Suaranya empuk, enak didengar. Rambutnya pendek dan mulai memutih. Ia memakai kacamata. Pada Selasa (26/4/2011) siang itu ia mengenakan celana pendek dan baju kaus biru tanpa lengan.
Ketika itu ia sedang berbicara dengan Ajun Komisaris Besar Aris Munandar, Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

RL ialah salah seorang tersangka kasus dugaan pembobolan rekening PT Elnusa Tbk di Bank Mega Cabang Jababeka yang merugikan perusahaan itu Rp 111 miliar. Selain RL, ada juga lima tersangka lain, termasuk pemimpin cabang Bank Mega Jababeka dan Direktur Keuangan PT Elnusa. Penyidik Polda Metro Jaya meyakini, RL inisiator pembobolan bank itu.

Berdasarkan data Bidang Humas Polda Metro Jaya, pada tahun 2006 dan 2009, RL diduga juga pernah terlibat kasus serupa dengan nilai tidak kalah besar. Orang menyangka RL berlatar belakang perbankan, padahal tidak.

”Saya enggak pernah kerja dan memiliki pengalaman di perbankan. Saya tamatan SMA di Padang, Sumatera Barat. Itu (pengetahuan tentang perbankan) saya dapat dari pergaulan saja,” kata RL.

Dia mengaku luwes bergaul karena punya pengalaman bertahun-tahun menjadi penyiar dan pengisi suara iklan radio serta bekerja di bidang pemasaran. Untuk masuk dan berkenalan dengan orang-orang di dunia perbankan, ia memanfaatkan suaranya yang merdu.

”Saya menyanyi, beliau senang. Saya ajak mengobrol lalu mengenalkan diri. Lalu saya dipanggil menyanyi ke mana-mana,” tuturnya.

Dia lalu cepat-cepat menambahkan, ”Saya ini terdidik marketing, jadi mudah mencari simpati orang. Minyak tanah saya jual. Saya bilang ini parfum pasti mereka tertarik.”

RL menolak bahwa apa yang dilakukannya dianggap sebagai pembobolan bank. Ia mengaku hanya perantara yang mempertemukan pengusaha dan pihak bank lalu mendapat ”kelebihan” transaksi. Ia mengaku meminta 0,5 persen dari nilai transaksi.

Pada kasus Elnusa, awalnya RL menghubungi It, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka. Setelah itu ia menghubungi Iv, Direktur PT Discovery, yang memerlukan dana. RL lalu mempertemukan It, Iv, dan Sn, Direktur Keuangan PT Elnusa.

”Semua yang dipertemukan sepakat memakai dana Elnusa. Direktur keuangan juga menyetujui, caranya silakan kalian atur,” tutur Aris.

Lalu, kata dia, dana yang semula berada di Bank Mandiri diatur agar secara resmi dipindahkan ke Bank Mega Jababeka. Ketika sudah masuk di Bank Mega, blangko deposito mulai dipalsukan. Caranya, blangko ditandatangani Zs, staf anak perusahaan PT Discovery. Nominal uang yang ditarik, kata Aris, diisi kepala cabang. Uang yang cair dimasukkan ke rekening PT Discovery. Sekitar 20 persen di antaranya dibagi-bagi.
Penarikan dilakukan lima tahap pada 2009-2010 dengan total Rp 161 miliar. Namun, pada Mei 2010 pelaku mengembalikan Rp 50 miliar dengan mentransfernya ke rekening PT Elnusa melalui PT Discovery.

Karena itu, polisi menduga pembobolan bisa terjadi karena keterlibatan ”orang dalam” sehingga prosedur keamanan bisa ”terpatahkan”. Dan, ini bukan sesuatu yang baru. Dari sembilan kasus pembobolan bank swasta dan pemerintah yang ditangani Polda Metro Jaya pada 2011, kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar, sebagian di antaranya mengindikasikan adanya keterlibatan orang dalam.

Kalau mereka tergoda, suara merdu pun bisa menjadi modal untuk membobol bank.... (Antony Lee/Windoro Adi)

Orang yang Fleksibel Mampu Hadapi Konflik

Konflik bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, baik konflik internal maupun eksternal. Konflik bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan harus dihadapi dengan kesiapan diri yang optimal. Namun, sesiap apapun seseorang, kepanikan selalu hadir bersamaan dengan konflik yang datang.

“Biasanya, saat menghadapi konflik kepanikan akan muncul. Padahal, kapasitas mengelola kepanikan itu bisa dikontrol,” ujar psikolog Ratih Ibrahim, dalam talkshow "Dealing with Conflict in Workplace" bersama Rexona, di Djakarta Theater Lounge, Rabu (20/4/2011) lalu.

Untuk mengontrol kepanikan, mulailah dengan menarik nafas yang dalam saat masalah muncul. "Kalau memang harus diam, lebih baik diam, dan berpikir sejenak," ujar Ratih.

Ia menyarankan untuk menggunakan aromaterapi agar tubuh lebih cepat tenang. "Indra penciuman adalah indra yang paling cepat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Aromaterapi membantu menetralkan emosi yang tidak stabil, yang muncul akibat kepanikan dan stres berkepanjangan setelah konflik muncul," jelas perempuan yang juga direktur Personal Growth, layanan konsultasi psikologi, ini.

Ratih menambahkan, jika kepanikan sudah bisa diatasi, konflik bisa dihadapi dengan menyiapkan langkah-langkah antisipatif terhadap masalah. "Logikanya yang jalan, bukan perasaan yang didahulukan. Jadi kita memiliki banyak alternatif untuk penyelesaian masalah, " tambahnya.

Konflik juga bisa dihadapi jika kita memiliki tingkat fleksibilitas terhadap masalah, karena memaksakan orang lain menerima sudut pandang kita membuat konflik akan semakin rumit. "Mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang akan membantu pikiran kita lebih terbuka," ungkap Ratih. 

Selain itu, memiliki jiwa yang tangguh, sehat, dan mantap, bisa membantu kita untuk siap menghadapi masalah seberat apapun. "Kalau ada masalah, hadapi, bukan hindari. Dihindari kemanapun juga tidak akan selesai," jelasnya.

Menurut Ratih, seseorang tidak akan berubah apabila dirinya sendiri tidak mau mengubahnya. "Butuh keinginan dan komitmen yang kuat untuk bisa konsisten mengatasi masalah dengan meminimalisasi kepanikan, dan melakukan berbagai persiapan, baik dari segi fisik maupun mental," tutup Ratih.

Indonesia Segera Terbitkan Obligasi Global 10 Tahun

Indonesia bersiap menjual obligasi berdenominasi dollar AS dengan tenor 10 tahun. Obligasi yang diperkirakan akan dilepas pada tingkat imbal hasil di bawah lima persen itu kemungkinan akan memasuki proses pembentukan harga pada hari Selasa atau Rabu waktu Hong Kong. Demikian dilaporkan Kantor Berita Reuters dari Hong Kong, Selasa (26/4/2011) malam.

Jika obligasi global (global bond) pertama pemerintah RI pada tahun 2011 ini jadi diterbitkan, maka imbal hasilnya akan lebih rendah dibandingkan imbal hasil (yield) global bond RI terakhir yang dilepas Januari 2010. Saat itu, global bond Indonesia diserap pelaku pasar senilai 2 milliar dollar AS. Semakin rendahnya yield menunjukan minat pelaku pasar yang tinggi terhadap instrumen keuangan asal Indonesia.

Sumber yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa nominal penerbitan obligasi RI kali ini adalah minimal 500 juta dollar AS. Indonesia yang sudah dikategorikan sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara menjadi sebuah tujuan investasi paling menarik dalam dua tahun terakhir ini.

Hal itu disebabkan perekonomiannya yang tumbuh dan tahan terhadap deraan krisis. Sementara pasar obligasinya menjadi sasaran utama dan favorit bagi investor asing, terutama karena surat berharga yang memberikan imbal hasil tinggi serta nilai tukar yang cenderung menguat.

Bulan lalu, investor asing dilaporkan membeli obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp 11,17 triliun atau setara 1,29 miliar dollar AS. Itu berarti setara 31 persen dari total kepemilikan utang pemerintah. Itu artinya tingkat kepemilikan tertinggi oleh investor asing di Asia.

Sebelumnya, Indonesia sudah menggelar nondeal roadshow (paparan dihadapan calon investor tanpa menargetkan pelepasan obligasi) pada Maret 2011. Bertindak sebagai joint lead manager (penyedia jasa penerbitan surat berharga) adalah Deutsche Bank AG, JP Morgan Chase & Co, dan UBS AG.